Pemuda Wajib Bela Negara Melawan Korupsi

Jakarta, antikorupsi.org (28/10/2015) - Korupsi telah menjadi masalah utama Bangsa Indonesia. Berbagai permasalahan yang kini tengah merongrong seperti kabut asap, kerusakan lingkungan, gizi buruk, maupun mahalnya akses pelayanan pendidikan merupakan bagian dari dampak praktek tercela tersebut. Salah satu wujud bela negara bagi pemuda adalah turun melawan korupsi.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Madrasah Antikorupsi menyambut hari sumpah pemuda yang diselenggarakan Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Diskusi bertema “Yang Muda, Yang Antikorupsi” menghadirkan pembicara Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Koordinator ICW Ade Irawan, Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti, dan Wali Kota Bogor Bima Arya.

Menurut Dahnil Anzar, cita-cita sumpah pemuda yang diusung puluhan tahun lalu untuk merawat keberagaman dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda berkomitmen untuk berjamaah melawan penjajahan. “Dalam konteks sekarang, pemuda harus berjamaah meneruskan perjuangan mereka, mewujudkan cita-cita kesejahteraan rakyat. Dan harus diingat, korupsi adalah hambatan nyata dalam mewujudkan kesejahteraan,” tegas Dahnil. 

Setidaknya ada dua alasan mengapa pemuda wajib melawan korupsi. Pertama, mereka adalah korban korupsi. Biaya sekolah dan kuliah yang mahal, pungli pengurusan KTP, SIM berdampang langsung kepada pemuda. Kedua, pemuda merupakan pewaris bangsa. Apabila mereka membiarkan korupsi merajalela tidak akan ada lagi warisan yang tersisa.

“Sumber daya alam habis dikeruk, hutan habis dibakar. Hanya sistem bobrok yang tersisa. Karena itu, pemuda yang paling berkepentingan untuk perang melawan korupsi,” Ujar Ade Irawan memperkuat pernyataan Dahnil.

Sedangkan Ray Rangkut berpendapat, memprihatinkan kondisi pemuda sekarang yang justru mulai kehilangan idealisme dan larut dalam sistem yang korup. Ray mencontohkan beberapa politisi muda yang mestinya bisa mendorong perubahan ternyata berperilaku yang sama. Para pemuda telah kehilangan keberanian.

“Terakhir yang paling saya sesalkan Mashington Pasaribu. Sebagai aktivis saya dukung langsung dia. Datang ke acara dia. Saya berharap dia memberi warna di parlemen jika terpilih. Ternyata setelah jadi anggota DPR  dia justru yang mempelopori pelemahan KPK,”

Bima Arya memberi contoh pengalaman dia menjadi walikota. Para aktivis mahasiswa yang dia harapkan bisa membantu justru berperilaku lebih korup dari yang ia bayangkan. Menurutnya mahasiswa menjadikan demonstrasi sebagai bisnis dan salah satu jalan untuk memeras.

“Setelah demo mereka datang ke tempat saya. Mereka mengajarkan saya. Pak wali gak usah repot-repot. Cukup antar kami ke kepala dinas, biar mereka yang membereskan. Kaget saya. Ketika saya tolak permintaan mereka, mereka mengancam akan menjadi oposisi Bima Arya seumur hidup. Kan kasian mereka ya,” Bima menambahkan.

Tapi menurut Bima tidak semua seperti itu. Para pemuda tetap bisa diharapkan untuk menjadi motor perubahan dan pelopor dalam melawan korupsi. Pemuda harus menunjukan peran konkrit mereka. “Bisa di level nasional maupun level lokal. Jangan cuma sibuk di dunia maya,” tambah Bima.

Dalam diskusi yang diselenggarakan di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah tersebut, semua peserta mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan mengikrarkan kembali Sumpah Pemuda. (Ade)

BAGIKAN

Sahabat ICW_Pendidikan