Kekayaan Chandra M. Hamzah Tertinggi di KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeber daftar kekayaan para komisionernya kemarin. Nilai harta Wakil Ketua KPK Chandra Marta Hamzah tercatat belum tergeser oleh empat pimpinan lainnya.

Setelah dua tahun menjabat, kekayaan Chandra dilaporkan paling besar dengan nilai aset Rp 4,04 miliar plus USD 12.817. Selama menjabat pimpinan KPK, kekayaan Chandra sebenarnya tak meningkat banyak. Saat melapor kali pertama sebagai penyelenggara negara, kekayaannya Rp 3,97 miliar dan simpanan USD 12.815. Tapi, setelah menjabat, nilai hartanya naik Rp 70 juta.

''Kekayaan saya hanya naik segitu selama menjabat pimpinan,'' ujar Chandra di kantornya kemarin.

Sebelum menjabat pimpinan KPK, dia memang dikenal sebagai pengacara kasus-kasus bisnis yang terbilang sukses. Dalam laporan yang dihimpun KPK, Chandra memiliki harta tidak bergerak Rp 1,34 miliar. Selama dua tahun terakhir, harta berupa tanah dan rumah itu hanya mengalami kenaikan nilai jual objek pajak (NJOP) Rp 27 juta. Dalam laporan itu juga disebutkan nilai alat transportasi Chandra senilai Rp 523 juta, sedangkan surat berharga, giro, serta setara kas lainnya Rp 1,7 miliar.

Plt Wakil Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean memiliki pundi-pundi kekayaan Rp 2,6 miliar. Kekayaan Tumpak juga tak banyak mengalami kenaikan sejak melaporkan kekayaan di KPK pada Maret lalu. Waktu itu, kekayaannya hanya Rp 1,7 miliar. ''Sekarang mobil saya hanya satu, Honda CR-V,'' jelas Tumpak kemarin.

Setali tiga uang, dalam dua tahun menjabat di KPK, kekayaan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto tak melonjak tajam. Dua tahun lalu, saat kali pertama menjabat, hartanya hanya Rp 1,8 miliar. Sekarang setelah dihitung KPK, nilainya Rp 2,18 miliar. Jumlah simpanan mantan Kapolda Kaltim tersebut dalam bentuk giro dan kas lain hanya Rp 631 juta.

''Kekayaan saya hanya itu. Mobil saya dua, Kijang Innova, tapi kredit semua. Yang satu kreditnya mau lunas, disusul dengan kredit yang baru,'' ujarnya. ''Harta saya tak banyak menunjukkan peningkatan seperti Pak Jasin (wakil ketua KPK yang lain),'' ucapnya. Sebab, selama dinonaktifkan, dirinya dan Chandra hanya mendapat gaji 75 persen dari KPK.

Nilai kekayaan Haryono Umar juga sedikit melonjak. Pada awal menjabat, nilai totalnya hanya Rp 814 juta. Kini, setelah dihitung, tambahannya sekitar Rp 500 juta. Kekayaan Haryono itu meningkat karena adanya lonjakan NJOP pada harta tak bergerak. Kali pertama melapor, nilai rumah dan tanahnya hanya Rp 380 juta. Tapi, kini sudah berubah menjadi Rp 650 juta. Simpanan dolar Haryono juga hanya USD 6.146.

Dalam pengumuman kekayaan tersebut, Wakil Ketua KPK M. Jasin tak membeberkan nilai hartanya. Sebab, dia mengumumkannya ke publik mendahului empat pimpinan yang lain. Kekayaan Jasin saat ini tercatat Rp 1,2 miliar. Padahal, dulu begitu baru menjabat hanya Rp 545 juta. Jasin beralasan peningkatan itu terjadi karena gajinya sebagai pimpinan memang melonjak daripada hanya menjadi pejabat struktural dulu. ''Saya kan sejak awal memang tak besar,'' ungkapnya.

Selain para pimpinan KPK, tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu mengumumkan kekayaannya. Yakni, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, serta Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Kekayaan tiga menteri tersebut umumnya meningkat selama berdinas.

Hatta Rajasa, misalnya. Selama lima tahun, kekayaannya meningkat hampir Rp 5 miliar. Sebelumnya, kekayaannya Rp 9,6 miliar. Kini berubah menjadi Rp 14,8 miliar. Dia mengaku peningkatan terbanyak terjadi karena melonjaknya NJOP harta tidak bergerak.

Dia menyatakan memiliki 14 bidang tanah dan bangunan di Bandung, Lampung, Jakarta, serta Palembang. Nilai kekayaan itu juga terdongkrak karena Hatta banyak menerima penghasilan lain di luar gaji. Di antaranya, berbagai honor memimpin tim-tim bentukan pemerintah. ''Honor-honor itu halal,'' tegasnya.

Menurut dia, sebagai menteri, dirinya selalu menanyakan apakah penerimaan honor tersebut sesuai job desk seorang menteri atau tidak. Dua tahun lalu, kekayaan Menhan Purnomo Rp 5,8 miliar. Namun, kini pundi-pundi hartanya melonjak menjadi Rp 9,6 miliar.

''Peningkatan terbesar terjadi karena naiknya harga NJOP harta tidak bergerak,'' jelasnya. Semula, nilai harta tidak bergerak hanya Rp 1,7 miliar, kini menjadi Rp 5,7 miliar.

Sementara itu, Menristek Suharna melaporkan kekayaannya Rp 11,1 miliar dan simpanan USD 29.785. (git/iro)

Sumber: Jawa Pos, 29 Januari 2010

BAGIKAN

Sahabat ICW_Pendidikan