Laporan Akhir Tahun ICW 2016

Tetap Menuai Dukungan
 
Masyarakat Indonesia kian sadar bahwa korupsi adalah sesuatu yang kronik dan berbahaya. Media sosial adalah salah satu rujukan dimana kecaman terhadap pejabat publik yang berperilaku menyimpang muncul silih berganti. Sesungguhnya ini pertanda baik. Masyarakat yang kritis adalah masyarakat yang mampu mengontrol kekuasaan dari kesewenang-wenangan dan korupsi. Salah satu yang bisa dijadikan contoh adalah gelombang protes yang diakumulasikan dalam gerakan petisi online. Ratusan ribu orang ikut menandatangani petisi “SaveKPK”. Bukan hanya isu korupsi, publik juga kian kritis dengan isu-isu sosial dan politik lainnya.
 
ICW tentu senang dengan fenomena ini. Mengapa? Karena dengan demikian, publik kian mendukung gerakan anti korupsi. Dukungan itu telah dibuktikan dalam berbagai macam bentuk. Kampanye dan advokasi menolak revisi UU KPK menuai banyak solidaritas. Bahkan ratusan guru besar dari berbagai kampus di Indonesia ikut serta dalam mendesak Presiden Jokowi untuk membatalkan revisi UU KPK.
 
Dukungan tak berhenti disitu. Para pesohor, baik kalangan artis, pemusik, komedian, perupa, seniman dan kalangan profesional juga mendukung gerakan anti korupsi. Mereka mengekspresikan sikap anti-korupsinya dalam berbagai bentuk. Salah satunya mendukung kampanye anti-korupsi dan program public fund raising yang dilakukan ICW. Najwa Sihab, Slank, Eddi Brokoli, J-Flo, Pangeran Siahaan, Vincent & Desta, Marissa Anita, Melanie Subono, Efek Rumah Kaca, Budiman Sudjatmiko, Sandy Pas Band, Happy Salma dan lain sebagainya adalah contoh dari para pemilik nama besar yang mendukung ICW.
 
Bukan hanya dari kalangan tersohor saja dukungan datang. Mereka yang berlatar belakang professional seperti pengajar, jurnalis, editor, kalangan swasta seperti pengusaha, pegawai swasta maupun kalangan ibu rumah tangga dan mahasiswa serta pelajar menjadi supporter tetap ICW. Dari mereka mengalir dukungan finansial bagi pemberdayaan dan penguatan program anti korupsi.
 
Dukungan publik yang kian luas menyiratkan satu hal, bahwa masyarakat geram dan marah dengan korupsi yang meraja lela. Dukungan publik tentu tak boleh disia-siakan. ICW berusaha konsisten dan istiqomah dalam gerakan anti korupsi, dan serius menjalankan fungsi kontrol dan peran lainnya yang relevan. Pelaporan kasus korupsi, monitoring kinerja penegakan hukum korupsi, penelusuran rekam jejak calon pejabat publik, pengawasan dana kampanye, reformasi kebijakan pendanaan partai politik, pengawasan tata kelola sektor ekstraktif dan pajak, penyediaan instrumen pengawasan publik, penyelenggaraan Sekolah Anti korupsi (SAKTI), dan berbagai program kolaborasi dengan lembaga pemerintah atau aktor tertentu di pemerintahan yang menaruh perhatian dan kemauan melawan korupsi telah dilakukan.
 
ICW mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dukungan yang telah diberikan. Gerakan anti korupsi memang hanya bisa dipertahankan dengan dukungan aktif dari masyarakat luas.
 
Salam Anti korupsi!!!
 
AttachmentSize
PDF icon Laporan Akhir Tahun ICW 2016.pdf12.05 MB
Counter:
544

Foto: Dok.ICW

Sekolah Antikorupsi (SAKTI) Guru diadakan 18-22 Maret 2019 bertempat di Jakarta.

Foto: Dok.ICW

MA harus tolak semua permohonan PK koruptor!

Sumber: Dok.ICW

Berbagai platform berisi informasi caleg yang dapat digunakan pemilih.

Foto: DetikNews.com

Zero tolerance hanya lip service pemerintah.