Selama Buron, Gayus dan Keluarga Tinggal di Tiga Hotel Mewah

SEBUAH pesan singkat terkirim ke telepon genggam Gayus Tambunan Senin siang (29/3). Isinya sederhana, hanya bertanya kabar. ''Boa kabarmuna Gayus?''

Ucapan khas Batak itu membuat Gayus penasaran. Mereka lantas saling berbalas kabar. ''Di dia hamu tinggal (di mana kamu tinggal)?'' Kali ini Gayus tak membalas lama.

''Selang waktu semalam (Selasa pagi, Red) dia baru menjawab. Tapi, hanya ditulis Orchard Road, tidak detail,'' ujar sumber Jawa Pos yang mengikuti proses penyerahan diri Gayus sejak Senin (29/3) itu.

Pendekatan kekeluargaan tersebut membuat Gayus melunak. Tim yang berangkat ke Singapura memang bukan orang sembarangan. Mereka adalah penyidik terpilih. Sebagai ''jenderal'' lapangan, ditunjuk Kombes Pol M. Iriawan, wakil direktur I/Kamtrannas Bareskrim Mabes Polri.

Iriawan yang akrab dipanggil Iwan Bule itu merupakan mantan Direskrimum Polda Metro Jaya dan mantan ketua tim penyidik kasus Antasari Azhar. Dia membawa empat penyidik andal Direktorat I Bareskrim. Dua orang lagi ''dibon'' dari Satgas Antiteror Polri yang jago cybercrime. ''Kami melacak jejak telepon Gayus dari ponsel istrinya yang berhasil kami deteksi,'' ungkap sumber tersebut.

Senin pagi (29/3), penyidik mulai mendapatkan petunjuk posisi Gayus. Saat itu, Iriawan berani melapor ke Kabareskrim Komjen Ito Sumardi. Ito pun langsung berangkat ke Singapura pada petangnya setelah transit di Batam. Ikut bersama Ito Kadensus 88 Mabes Polri Brigjen Tito Karnavian. ''Jadi, proses komunikasi dengan Gayus tidak tiba-tiba, ada waktunya,'' kata sumber itu.

Nah, finishing touch dilakukan anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa. Dua orang itu berangkat ke Singapura pada Selasa sore setelah menerima informasi dari tim Mabes Polri yang lebih dulu di Singapura.

Tim memang tidak bisa menangkap karena tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Gayus yang sedang makan malam di Asian Food Mall, Lucky Plaza, dekat hotelnya di Meritus Mandarin, itu secara kebetulan bertemu Denny. ''Alhamdulillah, saya berdoa semoga bertemu Gayus. Tak sampai lima menit terkabul,'' ujar Denny.

Dia lantas mengajak Gayus makan malam di restoran padang di Orchard Road. ''Saya berhasil meyakinkan Gayus lebih baik pulang ke Indonesia, akan lebih aman buat dia dan keluarganya,'' ungkap mantan aktivis BEM UGM tersebut.

Selanjutnya, pemulangan Gayus dari Singapura berjalan cukup mudah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura menyatakan, pemulangan PNS Ditjen Pajak golongan IIIA itu berbeda dari kasus lain ketika koruptor Indonesia lari ke Negeri Singa tersebut. KBRI Singapura juga menyatakan heran karena kepolisian dan imigrasi negara tersebut sangat kooperatif dalam memulangkan Gayus.

''Bahkan, sampai saat ini (tadi malam, Red) tidak ada protes dari pihak berwenang Singapura yang kami terima,'' ujar Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Singapura Yayan Ganda Hayat Mulyana ketika dihubungi dari Jakarta tadi malam.

Yang disampaikan Yayan itu memang senada dengan fakta di lapangan. Yakni, pemulangan Gayus dengan kawalan aparat Mabes Polri tidak mengalami hambatan dari pihak berwenang Singapura.

Yayan menuturkan, pemerintah Singapura menyampaikan, sejak kasus Gayus mencuat di media nasional, mereka telah memantau kasus tersebut secara detail. Bahkan, menurut dia, cukup banyak informasi pendukung yang diberikan aparat Singapura dalam penjemputan Gayus. ''Mereka (aparat Singapura, Red) cukup kooperatif dan kami sudah berterima kasih,'' ujarnya.

Pria 44 tahun itu menyatakan, aparat Polri pimpinan Kabareskrim Komjen Ito Sumardi dan Kombes Pol M. Iriawan sangat berperan dalam mendeteksi posisi Gayus di Singapura.

KBRI, kata dia, telah memfasilitasi aparat penegak hukum Indonesia lewat jalur diplomatik. Di antaranya, berkoordinasi dengan keimigrasian Singapura agar Gayus bersedia pulang ke Indonesia. Dia secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada penangkapan paksa atau perburuan resmi buron ke dalam wilayah Singapura.

Gayus bersedia pulang atas kemauan sendiri, sedangkan tim Mabes Polri hanya mendeteksi lokasi. ''Aparat Mabes Polri tidak melakukan penangkapan atau enforcement (pemaksaan, Red) karena Singapura bukan wilayah yurisdiksi Polri, di samping belum ada perjanjian ekstradisi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Singapura,'' tegasnya.

Saat ini, istri dan anak Gayus masih berada di Singapura. Rencananya, mereka dipulangkan secara terpisah untuk mengantisipasi overexpose kepada publik. Istri dan anak Gayus akan dipulangkan secara diam-diam hari ini agar identitas mereka tidak ikut dipublikasikan.

Berdasar catatan kepolisian Singapura yang diinfokan kepada tim Mabes Polri, sejak mendarat pada Rabu (24/3), Gayus beserta anak-istrinya beberapa kali berpindah hotel. Sedikitnya ada tiga hotel mewah yang diinapi buron kasus mafia pajak itu. Yakni, Singapore Marriott Hotel, Festive Hotel di Pulau Sentosa, dan Meritus Mandarin Hotel.

Dua di antara tiga hotel tersebut, yakni Singapore Marriott Hotel dan Meritius Mandarin Hotel, adalah hotel berbintang lima di kawasan Orchard Road, Singapura. Hotel Marriott memiliki tarif terendah SGD 350 atau setara Rp 2,2 juta, sedangkan Mandarin Meritius Hotel SGD 250 atau Rp 1,6 juta per malam. Festive Hotel di Pulau Sentosa memiliki tarif kamar termurah SGD 305 atau setara Rp 1,9 juta.

Gayus diduga kuat sudah mengetahui rencana kedatangan tim Mabes Polri dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang hendak menjemputnya di Singapura. Sebab, berdasar catatan Jawa Pos, tiga hotel itu memiliki tayangan channel televisi Indonesia.

Bahkan, Gayus terkesan tidak menganggap serius kasus yang menimpa dirinya saat ini. ''Buktinya, dia masih menuruti keinginan anaknya untuk berjalan-jalan ke Sentosa Island,'' ujar sumber Jawa Pos di KBRI Singapura yang mengawal pemulangan Gayus. (rdl/zul/c5/fal)
 
Sumber: Jawa Pos, 1 April 2010

BAGIKAN

Sahabat ICW_Pendidikan