Perempuan Bergerak: Menyuarakan Ketidakadilan Melalui Olah Tubuh

Antikorupsi.org, Jakarta, 21 April 2016 – Indonesia Corruption Watch (ICW) rayakan Hari Kartini dengan menggelar aksi teatrikal. Aksi teatrikal bertajuk ‘Gerak Perempuan Lawan Korupsi’ itu melibatkan sejumlah perempuan yang menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Di halaman depan kantor ICW, Kamis, 21 April 2016, mereka merayakan hari Kartini dengan cara berbeda dari perayaan pada umumnya. Menggunakan busana kebaya yang anggun, para perempuan dari berbagai komunitas itu mengeskpresikan keluh kesah mereka atas isu ketidakadilan melalui seni gerak tubuh.

“Aksi menyuarakan ketidakadilan kenapa tidak dibuat indah,” ucap Sely Martini, salah satu perempuan yang terlibat dalam aksi itu. Gerakan antikorupsi, menurut Sely, bisa menjadi indah dan menarik apabila dilakukan melalui aksi seni.

Aksi olah tubuh menurut Sely menjadi esensial untuk dilakukan, hal itu jika melihat dampak kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan perempuan.

Perlawanan atas korupsi dari perspektif perempuan lalu jadi penting, “Keputusan politik sangat mempengaruhi publik, khususnya perempuan,” tambah Koordinator Divisi Fundraising ICW itu.

Marintan Sirait, pelaku seni sekaligus anggota komunitas Rumpun Indonesia mengatakan, aksi gerak perempuan adalah cerminan melawan ketidakadilan terhadap perempuan melalui cara estetik.

Aksi itu juga sekaligus menjadi tawaran bagi perempuan yang selama ini sulit mengekspresikan keluh kesahnya, “Dapat menjadi alternatif bagi perempuan untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.

Dalam aksi olah tubuh itu ditampilkan pula secara simbolis perlawanan perempuan terhadap korupsi. Penari Senior, Ine Ariani dengan elok menampilkan aksi tersebut. Ia dikelilingi perempuan lainnya berputar sembari mengetuk-ngetuk wajan bertuliskan ‘Korupsi’. Aksi itu ia lakukan sebagai simbol perempuan yang kerap diidentikkan dengan ranah domestik.

Acara lalu dilanjutkan dengan pemutaran film pendek dan diskusi bertemakan ‘Korupsi, Politik Sumber Daya, & Perempuan’. Diskusi diisi oleh Sely Martini, Aktivis Ecosister Maemunah, dan filmmaker Sammaria Simanjuntak.

(Egi)

BAGIKAN

Sahabat ICW_Pendidikan